| Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo di Jepang TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Para anggota mafia yakuza dilarang memasuki pasar Jepang, namun kenyataannya larangan ini tak diindahkan lantaran saat ini dalam suasana kekurangan sumber daya manusia (SDM) di Jepang. "Dari dulu yang diributkan orang masuknya yakuza ke pembangkit nuklir yang bocor di Fukushima, untuk membersihkan reaktor yang bocor tersebut, wajar-wajar saja dilakukan yakuza. Siapa lagi orang lain yang mau melakukan? Pasti orang biasa tidak mau bekerja di reaktor yang bocor dan mereka wajar menerima gaji besar untuk itu," ungkap Sugawara Ushio (53), mantan yakuza bos Watanabe gumi dan salah satu pimpinan Sato gumi kepada Tribunnews.com, Jumat (5/10/2018). Ternyata keterlibatan yakuza tetap ada dalam penyediaan sumber daya manusia di Jepang, apalagi menjelang Olimpiade Tokyo dan Paralimpiade tahun 2020. Kemarin, Rabu (10/10/2018) enam orang yakuza ditangkap karena dicurigai mengirim pekerja secara ilegal ke sebuah situs konstruksi bangunan. Enam yang ditangkap, termasuk Mitsunobu Hiroo (69), kepala geng yang berafiliasi dengan sindikat Kyokuto-kai. "Hiroo mengakui bahwa para pekerja dikirim untuk mendapatkan dana untuk geng itu," ungkap pihak polisi. Menurut Kepolisian Metropolitan Tokyo, Hiroo telah lama diduga merekrut para tunawisma di Taman Shinjuku dan mengirimkan mereka ke lokasi konstruksi di dalam dan di sekitar ibu kota. Baca: Paspor Jepang Paling Kuat di Dunia, Bisa Menembus 190 Negara Tanpa Visa Geng diduga mengambil uang perlindungan dari perusahaan konstruksi yang dikirim para pekerja. Selain itu, geng juga mengambil sebagian dari upah harian pekerja. Let's block ads! (Why?) October 11, 2018 at 07:20AM via Tribunnews.com https://ift.tt/2C6ol1U |
No comments:
Post a Comment